TOPTIME.CO.ID, LEBAK – Program Hibah Air
Minum Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang dilaksanakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) pada 2018 silam menyisakan masalah. Ini terungkap dari beberapa pengakuan warga di Desa Kaduagung Timur dan Cibadak Kec. Cibadak. Terkait itu Penggiat sosial asal Kecamatan Cibadak, Muhamad Iskandar menyarankan Bupati melalui Dewan Pengawas PDAM Tirta Multatuli perlu segera membentuk tim khusus untuk mengaudit program hibah MBR tersebut.
Kata dia, Tim untuk audit khusus ini bisa melibatkan unsur Pengawas PDAM, Akuntan Publik, DPRD, perwakilan pelanggan, dan LSM. *BACA JUGA : https://toptime.co.id/carut-marut-program-hibah-air-mbr-pdam-di-lebak-ada-yang-asal-pasang-sampai-yang-setahun-terpasang-tapi-air-gak-ngocor/
Lebih lanjut dia mengatakan dia juga pernah menelusuri kegiatan hibah air minum di Kabupaten Lebak tersebut, termasuk yg di Kecamatan Cibadak.
Menurut pengamatan aktifis Komunitas Aspiratif, Iskandar , saat dia melakukan investigasi memang ada sejumlah temuan seputar kegiatan PDAM tersebut.
** BACA JUGA YG INI YA : https://toptime.co.id/koq-bisa-program-hibah-mbr-pdam-meteran-airnya-dipasang-tapi-tidak-ada-sambungan-pipa/
Dia menduga, adanya rumah warga yang dipasangi sambungan padahal warga yang bersangkutan tidak berminat, ada yang malah tidak ada aliran air, merupakan lemahnya sisi perencanaan dan sosialisasi PDAM atas program hibah air minum tersebut.
“Ada juga warga malah tidak tau bahwa ada biaya daftar Rp. 270 ribu, warga ini ngotot ingin gratis. Sementara sambungan sudah terpasang. Ini soal kurang sosialisasi awal pada saat survey dilakukan,” kata dia, Sabtu (26/10/2019)
Namun, Iskandar juga menengarai ada faktor dikejar target, sehingga yang penting banyak sambungan baru yang terpasang, sebagai cara agar dana hibah air minumnya bisa terserap.
Seperti diberitakan sebelumnya, Warga Kp. Peujeh Desa Cibadak, Agus Jaelani mengaku kendati tak berminat dan tak pernah daftar, di depan rumahnya juga pernah ada petugas PDAM yang memasang sambungan ke rumahnya lengkap dengan meteran air dan kran. Kata dia, banyak warga di kampungnya yang dipasangi sambungan rumah (SR) berikut alat ukur meterannya. Anehnya, kata Agus dirinya tidak pernah merasa mendaftar untuk jadi pelanggan PDAM.
“Ngapain juga saya pasang PDAM, kan saya sudah punya jet pump,” kata Agus.
Lebih lanjut kata Agus, karena tidak pernah mendaftar dia pun tidak membayar dan tidak pernah menerima tagihan.
“Sekarang sudah tidak ada instalasinya. Cuma heran aja, ngapain buang-buang biaya masang sambungan di rumah orang yang gak minat pasang,” kata Agus, Jum’at (25/10/2019)
Ketika ditanya apa pernah ada petugas survey dari PDAM sebelum sambungan rumah dipasang, Agus menegaskan tak pernah bertemu dengan petugas survey.
“Gak ada, tau-tau sudah terpasang aja di halaman rumah saya. Tapi saya biarkan, kalau saya cabut takut kena pidana. Kalau sekarang sih sudah dicabutin lagi sama PDAM,” imbuhnya.
Kata Agus, dia menyayangkan, PDAM tidak memastikan dulu mana warga yang benar-benar mau pasang atau tidak.
“Ya sayang aja, uang dibuang percuma, masang di rumah orang yang gak mau pasang,” ketusnya.
Sementara itu warga di desa lainnya, yaitu Muhamad Nawawi (53) warga Rancasema Pasir Desa Kaduagung Timur Kec. Cibadak mengaku dirumahnya juga ada sambungan PDAM. Namun hingga saat ini air tidak mengalir.
“Sudah hampir setahun dipasang, tapi belum pernah ada air,” kata Nawawi, Jum’at (25/10/2019)
Beberapa warga di Kaduagung Timur Kecamatan Cibadak lainnya mempertanyakan pemasangan alat pengukur meteran air namun tidak ada sambungan air.
Dengan nada kesal, wanita ini menunjukkan alat ukur yang menurutnya tak ada sambungan pipa airnya tersebut.
“Kumaha PDAM, ja teu dipasang-pasang, teu aya sambungana ieu? (gimana PDAM, koq gak dipasang-pasang ini, gak ada sambungannya ini ?-Red),” kata warga yang terekam TOP TIME.CO.ID.
Tak hanya wanita ini, beberapa ibu rumah tangga lainnya juga menunjukkan pemasangan alat pengukur meteran air tanpa sambungan pipa saluran PDAM.
Sementara itu Direktur PDAM Tirta Multatuli belum bisa dimintai tanggapannya.
Saat TOP TIME mendatangi kantor PDAM (18/10/2019) Direktur PDAM sedang tidak ada di kantornya. Seorang petugas security mengatakan jajaran pejabat di PDAM sedang tidak ada di kantor.
“Direktur dan para kasubag belum ada. Yang ada cuma staf bagian umum,” kata petugas security, Jum’at (18/10/2019)
Begitu pun saat TOP TIME.CO.ID, Rabu (23/10/2019) mengirimkan video warga yang mempertanyakan program hibah MBR air minum tersebut, kendati sudah centang biru yang menandakan pesan dibaca, tapi Oya Masri tidak merespon.
Berdasarkan Pedoman Pengelolaan Hibah Air Minum yang bersumber dari APBN, sebelum pemasangan SR dilakukan Kegiatan Baseline Survey dan Verifikasi.
Penilaian kelayakan pemerintah daerah dalam mengikuti Program Hibah Air
Minum akan dilakukan berdasarkan baseline survey. Selanjutnya penilaian
peserta Program Hibah Air Minum untuk mendapatkan pencairan dana hibah
akan dilakukan berdasarkan proses verifikasi. (SYARIF)

