Soal Program Hibah MBR dan Layanan Buruk, Kumala Desak Bupati Copot Direktur PDAM

alat meter PDAM

TOPTIME.CO.ID, LEBAK – Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) meminta Bupati Lebak, H. Iti Octavia Jayabaya mencopot Oya Masri dari jabatannya sebagai Direktur PDAM Tirta Multatuli. Ini ditegaskan Ketua Departemen Advokasi, Media dan Propaganda Kumala, Angga, Sabtu (26/10/2019) petang kepada TOP TIME. Kumala menilai, keluhan warga tekait layanan PDAM sudah berlangsung lama, tidak hanya di Cibadak, tapi juga di berbagai wilayah, termasuk di Kecamatan Malingping.

“Kami obyektif. Dalam kajian yang kami lakukan, ada kegagalan menejerial di PDAM Tirta Multatuli yang berimbas kepada layanan. Berbagai masalah muncul, keluhan pelanggan sudah lama bermunculan. Tinggal ketegasan kepala daerah (bupati-red) mencopot direktur PDAM,” kata Angga.

Angga bahkan mencontohkan layanan PDAM di kampungnya yang dinilai buruk.
“Di rumah saya di Kp. Polotot Kecamatan Malingping juga sudah 6 bulan tidak ada air. Warga terpaksa patungan bikin sumur bor. Padahal air kebutuhan primer, saat warga tak ada air, PDAM tak hadir memberi solusi,” kata Angga.

Berdasarkan kajian Kumala, mereka menilai program MBR ada kesan dipaksakan utk mengejar target penyerapan anggaran dari pusat sehingga menyisakan berbagai masalah di lapangan.

“Untuk itu Kumala meminta Bupati selaku Kepala
Daerah mencopot Direktur PDAM Tirta Multatuli,” ulangnya lagi. *BACA BERITA SEBELUMNYA : https://toptime.co.id/lsm-desak-ada-audit-khusus-soal-program-hibah-air-minum-mbr-pdam-di-lebak/

**BACA JUGA YG INI YA : https://toptime.co.id/carut-marut-program-hibah-air-mbr-pdam-di-lebak-ada-yang-asal-pasang-sampai-yang-setahun-terpasang-tapi-air-gak-ngocor/

***YG INI JANGAN TERLEWAT : https://toptime.co.id/koq-bisa-program-hibah-mbr-pdam-meteran-airnya-dipasang-tapi-tidak-ada-sambungan-pipa/

Sementara itu, Direktur PDAM saat dikonfirmasi melalui pesan whatsapp, Minggu (27/10/2019) pagi hingga berita ini diunggah belum merespon. Begitu pun sebelumnya, saat pertama kali meminta konfirmasi terkait program hibah air minum MBR, ketika disambangi ke kantornya Direktur tak ada di kantor dan ketika di kirim pesan whatsapp tak merespon. Beberapa pejabat di PDAM juga enggan berkomentar karena menurutnya kegiatan MBR bukan bagiannya.

Sebelumnya diberitakan ada beberapa pengakuan warga di Desa Kaduagung Timur dan Cibadak Kec. Cibadak terkait carut marut program hibah air minum MBR di wilayahnya. Ada yang sudah setahun terpasang meter pengukur namun tak ada air yang mengalir. Di lain tempat malah banyak warga yang tak mendaftar tapi di rumahnya dipasangi sambungan air.

Penggiat sosial asal Cibadak, Muhamad Iskandar menyarankan Bupati melalui Dewan Pengawas PDAM perlu segera membentuk tim khusus untuk mengaudit program hibah MBR tersebut.

Kata dia, Tim untuk audit khusus ini bisa melibatkan unsur Pengawas PDAM, DPRD, perwakilan pelanggan, dan LSM.

Lebih lanjut dia mengatakan dia juga pernah menelusuri kegiatan hibah air minum di Kabupaten Lebak tersebut, termasuk yg di Kecamatan Cibadak.

Menurut pengamatan aktifis Komunitas Aspiratif, Iskandar , saat dia melakukan investigasi memang ada sejumlah temuan seputar kegiatan PDAM tersebut.

Dia menduga, adanya rumah warga yang dipasangi sambungan padahal warga yang bersangkutan tidak berminat, ada yang malah tidak ada aliran air, merupakan lemahnya sisi perencanaan dan sosialisasi PDAM atas program hibah air minum tersebut.

“Ada juga warga malah tidak tau bahwa ada biaya daftar Rp. 270 ribu, warga ini ngotot ingin gratis. Sementara sambungan sudah terpasang. Ini soal kurang sosialisasi awal pada saat survey dilakukan,” kata dia.

Namun, Iskandar juga menengarai ada faktor dikejar target, sehingga yang penting banyak sambungan baru yang terpasang, sebagai cara agar dana hibah air minumnya bisa terserap.

Seperti diberitakan sebelumnya, Warga Kp. Peujeh Desa Cibadak, Agus Jaelani mengaku kendati tak berminat dan tak pernah daftar, di depan rumahnya juga pernah ada petugas PDAM yang memasang sambungan ke rumahnya lengkap dengan meteran air dan kran. Kata dia, banyak warga di kampungnya yang dipasangi sambungan rumah (SR) berikut alat ukur meterannya. Anehnya, kata Agus dirinya tidak pernah merasa mendaftar untuk jadi pelanggan PDAM.

“Ngapain juga saya pasang PDAM, kan saya sudah punya jet pump,” kata Agus.

Lebih lanjut kata Agus, karena tidak pernah mendaftar dia pun tidak membayar dan tidak pernah menerima tagihan.

“Sekarang sudah tidak ada instalasinya. Cuma heran aja, ngapain buang-buang biaya masang sambungan di rumah orang yang gak minat pasang,” kata Agus, Jum’at (25/10/2019)

Ketika ditanya apa pernah ada petugas survey dari PDAM sebelum sambungan rumah dipasang, Agus menegaskan tak pernah bertemu dengan petugas survey.

“Gak ada, tau-tau sudah terpasang aja di halaman rumah saya. Tapi saya biarkan, kalau saya cabut takut kena pidana. Kalau sekarang sih sudah dicabutin lagi sama PDAM,” imbuhnya.

Kata Agus, dia menyayangkan, PDAM tidak memastikan dulu mana warga yang benar-benar mau pasang atau tidak.

“Ya sayang aja, uang dibuang percuma, masang di rumah orang yang gak mau pasang,” ketusnya.

Sementara itu warga di desa lainnya, yaitu Muhamad Nawawi (53) warga Rancasema Pasir Desa Kaduagung Timur Kec. Cibadak mengaku dirumahnya juga ada sambungan PDAM. Namun hingga saat ini air tidak mengalir. (SYARIF)

scroll to top