
TOP – Berkat kecerdasan dan kedalaman ilmu yang dimilikinya, Sunan Kudus mendapat jabatan strategis di Kesultanan Demak. Ia menjadi seorang penasihat raja, qadhi, panglima perang, mufti, imam besar, mursyid tarekat.
Ajaran Islam yang disebarkan di wilayah Kudus, Jawa Tengah kala itu tidaklah mudah. Ia harus berhadapan dengan masyarakat Jawa yang kental dengan agama Hindu dan Buddha yang sudah lebih dahulu masuk.

Sunan Kudus harus memutar otak untuk menemukan cara memperkenalkan Islam kepada masyarakat saat itu. Kuncinya, dakwah yang dilakukan harus dengan metode yang baik, halus, tidak memaksa sehingga banyak masyarakat yang berhasil memeluk Islam.
Baca juga:
- Polri Jamin Kesempatan Sama bagi Seluruh Peserta pada Penerimaan Taruna Akpol 2026
- Polda Banten Revitalisasi Jembatan di Bayah
- Jaga Kebugaran dan Soliditas, Korsabhara Baharkam Polri Gelar Olahraga Rutin Bersama
- Bulog Lebak-Pandeglang pasok bahan pokok ke-30 KDKMP
- Dinkes Lebak lakukan pencanangan gerakan Jumantik cegah DBD
Melihat kondisi sosial masyarakat Kudus yang saat itu masih kuat dengan ajaran Hindu dan Buddha, Sunan Kudus mulai mencoba menarik perhatian masyarakat.
Salah satu usaha yang dilakukannya adalah dengan membangun sebuah masjid yang memiliki arsitektur mirip dengan agama Hindu. Hasilnya, saat itu banyak masyarakat yang mulai penasaran dengan ajaran Sunan Kudus dan perlahan mulai terpengaruh dengan Islam.
Tidak hanya itu, dalam masjid yang diberi nama Masjid Al-Aqsha tersebut dibuatkan delapan titik pancuran untuk berwudu. Uniknya, pancuran tersebut dilengkapi arca Kebo Gumarang yang sangat dijunjung tinggi masyarakat.

