KNPI Rajeg: Ada dalam Struktur, Hilang dalam Kultur”


Oleh: Nuradi – Ketua HIMAPUTRA (Himpunan Pemuda Mahasiswa Tangerang Utara)

Rajeg, – Pemuda adalah motor perubahan, namun tanpa penggerak, mesin itu akan diam, berkarat, bahkan bisa terlupakan. Inilah gambaran yang sayangnya relevan dengan kondisi KNPI Kecamatan Rajeg saat ini.1 Agustus 2025

Sejak dibentuknya kepengurusan KNPI di kecamatan ini, publik belum melihat geliat berarti, apalagi kontribusi nyata terhadap ruang-ruang kreativitas dan partisipasi pemuda. Berbeda jauh dengan Karang Taruna Kecamatan Rajeg, yang dalam beberapa bulan terakhir ini justru tampil sebagai garda terdepan dalam menyemarakkan aktivitas kepemudaan dan kemasyarakatan.

Dalam rangka menyambut HUT RI ke-80, Karang Taruna mampu menginisiasi berbagai kegiatan seperti jalan sehat, lomba-lomba olahraga, hingga lomba desain kreatif—menandakan adanya semangat dan kepedulian terhadap potensi generasi muda. Sebuah kiprah yang tak hanya hadir di tengah masyarakat, tetapi juga mengakar dalam semangat gotong royong.

Ironisnya, KNPI Rajeg justru absen dalam peran-peran strategis tersebut. Baik dalam kegiatan mandiri, maupun dalam kolaborasi dengan organisasi lain, nama KNPI seolah menjadi simbol tanpa gerakan. Padahal, kehadiran tokoh dengan akses struktural semestinya menjadi peluang besar untuk memajukan wadah ini, bukan justru menjadikannya hiasan semata.

Sebagai pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam HIMAPUTRA, kami menyampaikan keprihatinan sekaligus mengajak semua elemen pemuda di Rajeg untuk merefleksikan ulang, apakah kita hanya ingin menjadi penonton di tanah sendiri, atau justru tampil sebagai penggerak dan pelopor?

Pemuda bukan hanya angka usia, tetapi soal daya cipta dan rasa tanggung jawab. Saat ruang-ruang itu kosong, maka jangan heran jika kepercayaan publik perlahan menguap, digantikan oleh organisasi yang benar-benar bekerja dan menyatu dengan rakyat.

Berbanding terbalik, Karang Taruna Rajeg justru tampak “dimanjakan” oleh panggung dan dukungan yang luar biasa. Dengan berbagai fasilitas dan akses, organisasi ini tampil seperti anak kesayangan yang bebas bergerak, didukung penuh, dan diberi ruang sebesar-besarnya.

Dalam menyambut HUT RI ke-80 saja, Karang Taruna sukses menggelar berbagai kegiatan mulai dari jalan sehat, lomba olahraga, hingga lomba desain. Sebuah prestasi yang patut diapresiasi—namun juga menjadi cermin bagi organisasi lain yang seharusnya turut ambil bagian.

Sudah saatnya KNPI Rajeg melakukan evaluasi menyeluruh dan membuka diri terhadap kritik serta ajakan kolaborasi. Jika tidak, maka organisasi ini akan terus berada dalam ruang hampa, jauh dari denyut kehidupan pemuda yang sesungguhnya. (*)

scroll to top