Close

Soal Cor Beton Tak Pakai Mobil Mixer, PPK Sebut itu Tak Masalah

Pelaksanaan kegiatan proyek Peningkatan Skala Kawasan (Rigid Beton) Kelurahan Kampung Nelayan, Kecamatan Tungkal Ilir dinilai syarat kejanggalan dan pekerjaan ini juga diragukan kualitasnya karena diduga rekanan tidak memiliki dukungan alat.

TOPTIME.CO.ID, TANJABBAR – Terkait Kegiatan Proyek Peningkatan Skala Kawasan yang menjadi pertanyaan warga beberapa waktu lalu, pihak Dinas Perumahan Kawasan dan Permukiman (Perkim), menganggap sah-sah saja, selama mutu beton tidak kurang dari yang telah dibuat dalam Rencana Anggaran Belanja (RAB). Hal ini dikatakan Junaidi selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Dinas Perkim pada proyek tersebut, Kamis (12/09/2019) melalui telepon selulernya.  

“Dia pengaruhnya waktu ngaduk awal, kalau dia numpah (hampar-red) tu mano pengaruh, Itu tidak salah. Kalau ngecek mutu itu waktu ngaduk awal sama saat keringnya. Dan lagi pula itu LC (lantai kerja-red), LC itu mutunya K 100, mutu beton K 100 itu bisa sajo pakai Molen (manual-red). Cuma dio dak mau masukkan bahan ke lokasi. Mererepoti gawe dio, enak dio beli sekalian di batching plant”, kata Junaidi dengan logat daerahnya.

Perlu diketahui, ia juga mengatakan bahwa pekerjaan tersebut menggunakan batching plant hanya pada rigit betonnya. “Hanya rigit betonnya saja yang menggunakan batching plant, LC-nya tidak, menurut RAB nya”, ungkap Junaidi.

*BACA JUGA : https://toptime.co.id/cor-beton-jalan-tak-pakai-mobil-mixer-proyek-di-kampung-nelayan-dipertanyakan/

Ia menegaskan pekerjaan tersebut tidak ada masalahnya, karena menurutnya pihak rekanan sudah bekerja sesuai pada RAB. “Dia pakai alat batching plant, pakai mobil mixer, kalau masalah dia menghampar macam mana teknis di lapangan itu kan urusan orang teknis di lapangan caranya, teknis di lapangan itu kan berbeda-beda,” tuturnya.

Ketika dikatakan mobil mixer bisa masuk kelokasi, Ia mengajak bersama-bersama kelokasi pekerjaan untuk turun langsung. “Dak mungkin dipaksakan mobil masuk kalau tidak bisa masuk. Nah, kalau bisa masuk, berarti nanti kita sama-sama kesana”, kilahnya.

Kemudian ia pun mengaku bahwa pihaknya hanya berharap mutu beton pekerjaan tersebut sesuai seperti di RAB. “Kalau kami pada intinya, yang penting mutu beton itu tidak kurang dari apa yang telah tertuang dalam RAB,” akuinya.

“Untuk Mutu Beton Pada LC K100, Pada Rigitnya K200, sedangkan untuk volumenya bervariasi”, tutupnya.

Diberitakan sebelumnya,pelaksanaan kegiatan proyek Peningkatan Skala Kawasan (Rigit Beton) Kelurahan Kampung Nelayan, Kecamatan Tungkal Ilir dinilai syarat kejanggalan dan pekerjaan ini diragukan kualitasnya karena tekanan tidak memiliki dukungan alat. Hal ini diungkapkan Direktur Eksekutif LSM Petisi, Syarifuddin AR saat dihubungi media via telepon selulernya. Ia menegaskan, Pihak Dinas terkait dinilai lalai, lantaran bisa meloloskan pemenang tender yang diduga berbohong tentang kepemilikan dukungan alat mobilisasi. Seharusnya pihak panitia bersikap profesional dalam menjalankan suatu kegiatan.

“Artinya, dia (rekanan pelaksana-red) tidak layak sebagai pemenang. Karena pada pembuktian alat itu artinya dia tidak memiliki sama sekali. Itu di BQ harus menggunakan dukungan alat, jadi disini kita menilai panitia tidak siap atau tidak bagus, karena bisa meloloskan perusahaan yang tidak memiliki dukungan alat,” tegasnya.

Syarifuddin juga mempertanyakan kinerja konsultan pengawas yang jarang terlihat di lapangan terutama saat pelaksanaan kerja.

“Pihak konsultan dan teknis dinas jarang di lapangan. Ini juga patut dipertanyakan, karena menyangkut tugas dan kewajiban mereka. Seharusnya pengawas dan pihak dinas ada di lapangan terutama saat tahapan – tahapan fisik dilaksanakan,” imbuhnya. (MR)

scroll to top