Close

Di Sela Festifal Seni, Megawati Institute Kunjungi Museum Multatuli

Sebanyak 25 orang dari Megawati Institute kunjungi Meseum Multatuli, Lebak Banten, Selasa (10/9/2019). Saat melihat isi Museum Multatuli, rombongan ini dipandu oleh sejarawan Nasional asal Rangkasbitung, Bonnie Triyana.

TOPTIME.CO.ID, RANGKASBITUNG – Sebanyak 25 orang dari Megawati Institute kunjungi Meseum Multatuli, Lebak Banten, Selasa (10/9/2019). Saat melihat isi Museum Multatuli, rombongan ini dipandu oleh sejarawan Nasional asal Rangkasbitung, Bonnie Triyana.

Kepada rombongan, Bonnie menjelaskan tiap-tiap ruangan dan gambar yang tersaji, mulai dari fase awal masuknya bangsa-bangsa barat ke Nusantara untuk mencari rempah, termasuk diantaranya kopi.

Setelah puas mengitari Museum Multatuli, rombongan Megawati Institute ini kemudian mengunjungi bekas rumah dinas Douwes Dekker atau Multatuli yang berada di Rumah Sakit Ajidarmo.

Nama Museum Multatuli berasal dari nama Eduard Douwes Dekker, atau yang dikenal pula dengan nama pena Multatuli, adalah penulis Belanda yang terkenal dengan Max Havelaar, novel satirisnya yang berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia Belanda.

Megawati Institute yang memiliki misi merangkul kaum cendekiawan nasional dan menghasilkan rekomendasi yang aplikatif untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Aktivitas lembaga ini melakukan diskusi, publikasi jurnal dan buku serta memiliki sekolah pemikiran pendiri bangsa.

Sebelumnya, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya berharap, FSM yang akan berlangsung pada 9-15 September 2019 di Kabupaten Lebak ditarget dikunjungi oleh 25 ribu orang mampu menarik masyarakat Banten, Jabodetabek dan daerah lain di Indonesia hingga wisatawan mancanegara yang membaca novel Max Havelaar karya Multatuli, maupun mereka yang bergerak di bidang pariwisata, fotografi, jalan-jalan, sastra, seni, budaya dan literasi.

“Festival ini bertujuan menjadi sarana ekspresi bagi para pelaku budaya di Lebak. Kami yakin, kebudayaan Lebak akan mampu bertahan dan bersenyawa dengan gerak zaman yang terus berkembang,” ujar Iti, kemarin.

FSM 2019 akan menampilkan berbagai kegiatan seni dan kebudayaan di antaranya, festival teater, pameran seni rupa, penerbitan dan bedah buku kumpulan cerpen dengan tema “Cerita dari Lebak”, simposium: Membaca Ulang Max Havelaar, bincang film bersama Riri Riza, kesenian tradisional, wayang golek, ceramah, karnaval kerbau, dan konser musik tradisi.

Festival yang mengusung sastra sebagai ekosistem kebudayaannya, berupaya mengawinkan sastra dengan kehingaran, dan menjadi satu-satunya festival yang bermula dari novel Max Havelaar.

“Dimulai dari perencanaan ide, konsep, pelaksanaan dan pelaporannya dilakukan oleh komunitas dengan disupervisi oleh pemda,” katanya.

FSM 2019 akan diisi oleh kegiatan yang mengawinkan tradisi lokal dengan ilmu pengetahuan, dan menghadirkan gaya kuratorial yang ketat dan kritis

scroll to top